Aku

Badan yang dzahir

Badan kita yang dzahir ini adalah pendzahiran diri kita yang batin. Diri kita yang batin itu gaib dari pandangan mata kasar.

Untuk melihat yang batin itu diperlukan bayangannya yaitu diri kita yang dzahir ini. Maka itulah dikatakan badan kasar itu hanya ‘sarung’ atau ‘tunggangan’ atau ‘sangkar’ bagi badan yang gaib itu.

Apabila nyawa berpisah dari badan, maka tinggallah badan itu dan lama kelamaan jadi  hancur kecuali dengan kehendak Allah, ada juga badan yang tidak hancur setelah lama nyawa meninggalkannya. Tetapi pada umumnya badan akan hancur binasa. Itulah dikatakan dari tanah kembali semula ke tanah.

Ada juga orang melihat dalam dunia ini ‘bayangan’ atau ‘badan’ orang yang telah lama meninggal dunia muncul berlakon dan beraksi sebagaimana hidupnya dalam dunia dahulu. Itu bukanlah badan orang itu sebenarnya.

Badannya telah hancur binasa. ‘bayangan’ atau ‘badan’ itu adalah dari unsur alam mithal.

Alam mithal adalah alam yang halus, yang penghuninya atau kandungannya tidak hancur. Ia bukan Roh semata-mata dan bukan pula badan semata-mata. Ia adalah antara kedua unsur itu.

Bahwa Diri kita terdiri dari tiga unsur yaitu unsur badan yang akan hancur kecuali yang dikehendaki Allah untuk tidak hancur, unsur mithal yang tidak hancur tetapi tersimpan dalam ‘alam mithal’ dan unsur ketiga ialah roh dan ini selama-lamanya hidup, tidak hancur dan tidak kembali lagi ke dunia nyata ini.

‘Badan’ atau ‘bayangan’ orang yang telah mati yang kelihatan oleh orang dalam dunia ini dan berlaku seperti mana ia hidup di dunia dahulu, sebenarnya adalah berunsur mithaliyyah (mithal). Sesekali ia kelihatan oleh orang yang hidup dalam dunia ini persis sebagaimana hidupnya dahulu, bahkan berkata-kata dengan orang yang berada dalam dunia ini. Ini telah banyak terjadi di mana saja dalam dunia ini, baik di Barat atau di Timur.

Setelah kita faham alam yang tiga itu, maka tidaklah kita heran kenapa ada orang yang  melihat si anu dan si anu padahal orang itu telah meninggal dunia. Alam mithal ini ada tetapi tidak kelihatan kecuali mereka yang dibukakan hijab untuk melihat alam itu dan para penghuninya.

 

Setiap orang hendaklah mengenal akan dirinya yang sebenar-benarnya, yaitu yang berunsur rohaniah, agar dia tidak mensia-siakan hidupnya di dunia fana ini.

Hidup kita bukan di dunia ini saja. Hidup kita berkelanjutan, kekal abadi tiada ujungnya. Nilai buruk atau baik bukan dilihat dari segi kekayaan harta, pangkat atau jabatan yang diperoleh di dunia ini. Melainkan nilai baik dan buruk seseorang bergantung kepada iman dan amal soleh seseorang itu.

Dengan kenalnya kita kepada diri yang sebenar itu, maka kita tidak akan putus asa, tidak takut, tidak bimbang dalam mengarungi bahtera hidup kita ini.

Hal ini karena kita tahu diri kita adalah kekasih Allah.

Sebenarnya Allah mengasih diri kita lebih dari ibu mengasihi anak kesayangannya.

Ia Maha Kasih Sayang terhadap hamba-hambanya.

Dengan mengenal diri kita, maka tidaklah kita takabur, sombong, congkak, dengki, iri hati, khianat karena kita tahu siapa diri kita sebenarnya.

Jika dinisbahkan dengan Allah swt, kita tiada apa-apa, hanya ayat-ayatNya saja.

Jika dinisbahkan dengan makhlukNya, diri kita adalah penguasa dan pengurus.

Allah menjadikan alam dan makhluk untuk kita, dan menjadikan kita untuk Dia.

Siri Aku 01 sampai 03 

  1.      DUA UNSUR DIRI AKU

Ada juga orang yang berpendapat bahwa Diri manusia itu terbagi menjadi 2 unsur saja yaitu rohaniah dan jasmaniah.

Unsur rohaniah termasuklah nyawa atau jiwa, dan juga pikiran, mind, khayalan, akal, dan sejenisnya yang berunsur rohaniah atau kejiwaan.
Yang berunsur kejasmanian adalah anggota badan kasar seperti kepala, badan, kaki, tangan, telinga, mata, dan sebagainya yang terdiri dari unsur-unsur api, angin, tanah dan air.
Kedua unsur kejiwaan dan lahiriyah ini saling berhubungan antara satu dengan yang lain, saling pengaruh mempengaruhi antara satu dengan yang lain.

Kalau seseorang itu hatinya susah, atau duka, perasaan ini langsung mempengaruhi jasmaninya seperti tidak nafsu makan dan minum dan akibatnya badan jadi kurus dan tidak sehat. Sebaliknya pula kalau badan sakit, pikiran pun rungsing dan ini menyusahkan hati dan jiwa.

Demikianlah adanya pengaruh mempengaruhi antara jasmani dan rohani.

 2.      TIGA UNSUR DIRI AKU

AKU itu diri. Diri insan terbagi menjadi 3 bagian menurut pendapat sebagian Ahli Sufi, yaitu bagian jasmani, bagian mithali dan bagian ruhani.
Unsur ROH itu adalah diri yang sebenarnya, itulah diri yang tidak akan ‘mati’ menurut istilah biasa. Diri ini berpindah alam saja dari satu alam ke satu alam yang lain. Diri inilah yang Mulia dan menjadi ‘Ayat’ atau ‘Nur Allah’

Kejadiannya Mulia dan Agung.

Unsur Mithali adalah unsur antara jasmani dengan rohani.

Ia adalah diri lapisan yang kedua.

Yang termasuk didalamnya adalah : pikiran, mind dan tubuh halus yang bukan jasmani dan bukan pula roh yang sebenarnya.

Diri inilah yang biasa mengembara dalam alam mimpi takkala kita tidur.

Di lapisan yang ketiga ada diri jasmani yaitu badan kasar kita yang terdiri dari empat unsur antara lain : unsur air, unsur angin, unsur api dan unsur tanah.

Diri ini memerlukan unsur-unsur yang empat itu untuk dapat hidup. Kehidupannya hanya akan wujud setelah empat unsur itu tersedia.

Itulah tiga bahagian diri manusia. walau bagaimanapun, unsur Roh itulah yang paling penting. Roh itu hidup. walau ‘hidup’ lapisan yang dua lagi tidak berfungsi.

Dengan adannya ROH barulah diri kita dapat berfikir, berkomunikasi, makan, minum, bermain, bergerak dan sebagainya.

Tanpa Roh segalanya akan kaku, mati, dan tiada berguna lagi.

3.      AKU INSAN SAGHIR

Menurut Falsafah Kesufian, AKU itu adalah Insan Saghir yakni Manusia Kecil.

Alam semesta raya yang gaib dan yang nyata, adalah Insan Kabir atau manusia besar. Insan Saghir itu adalah Alam Saghir yaitu Alam keil dan Insan Kabir itu adalah Alam besar.
Dikatakan demikian karena hakekat-hakekat dalam Insan Kabir atau manusia besar itu ada dalam Insan Saghir.

Apa yang ada pada Insan Kabir itu ada terbayang dalam Insan Saghir atau Alam Kecil yaitu Manusia.

Alam Kabir itu pula mengandung alam ruh, alam mithal dan alam jasmaniah atau alam fizikal. Alam-alam ini juga ada pada Insan Saghir atau manusia.

Manusia terdiri dari unsur-unsur roh, mithal, tubuh, sebagaimana Alam Besar ini terdiri juga dari unsur-unsur roh, mithal dan fisikal.

ROH itu nyawa yang ‘hidup’. Fizikal itu jisim atau tubuh. Mithal itu antara Roh dan Tubuh yang disebut ‘jiwa’ atau mental atau khayal atau mind.

Yang ada di Alam Kabir (Semesta alam) ada dalam Alam Saghir (Diri manusia).

Hakekat Insan Kabir (Alam Besar) ada dalam Insan Saghir yaitu Manusia. Unsur-unsur alam kabir itu ada juga pada Alam kecil atau manusia itu.

Oleh karena itulah dikatakan AKU ini bayangan atau gambaran dari Alam Kabir.

AKU juga adalah bayangan atau gambaran Insan Kabir.

SEMESTA PADA DIRI SEMESTA PADA DIRI
BumiGunungTambangSungai

Tanah

Pohon

Timur

Barat

Selatan

Utara

JasadSusu/anggotaOtakKeringat

Daging

Rambut

Muka

Belakang

Kanan

Kiri

AnginKilatGuruhHujan

Mega/Awan

Mati

Hidup

Panas

Dingin

…….

NafasPerkataanTertawaTangis

Marah/Sedih

Tidur

Bangun

Muda

Tua

………

  1. Siri Aku 04 sampai 9

4. ILMU AKU MELIPUTI

AKU yang hakiki ini mempunyai ilmu.

Ilmunya adalah limpahan dari ilmu Allah.

Seluruh alam ini ada dalam ilmu AKU.

Dalam ilmu AKU ada surga, neraka, dunia, akhirat, malaikat, iblis bahkan seluruh ciptaan Allah. Semua ini ada dalam ilmu AKU karena AKU tahu semua itu.

AKU telah diberitahu melalui ayat-ayat Allah, yang tersurat dan tersirat, bahwa semua perkara tersebut ada, dan AKU ‘merasai’ adanya.

Oleh karena itulah AKU ini mempunyai ilmu yang meliputi segala-galanya.

Semua itu adalah limpahan karunia Allah jua..

5. AKU TETAP MENGAGUNGKAN ALLAH

AKU sebenarnya hanya mengagungkan dan memuja Allah saja.

AKU tidak mengagungkan apa-apa pun jua selain Allah.

Pada pandangan AKU tidak ada yang kuat dan gagah melainkan Allah.

Tidak ada yang bijaksana melainkan Allah.

Tidak ada yang kaya melainkan Allah.

Semua kekayaan, kegagahan, kebijaksanaan, keindahan adalah ‘ghairullah’ melainkan limpahan karunia Allah semata-mata.

Oleh karena itu, AKU tetap dengan puja dan puji hanya kepada Allah saja.

6. AKU MENGISBATKAN ALLAH

AKU tetap mengisbatkan Allah dalam segala hal dan tindak tanduk-ku.

Maksudnya AKU tetap melihat Allah di balik segala yang maujud atau perkara yang ada.

Apapun yang  “nampak” perbuatan dan kelakuan dan arah mana memandang disana “nampak” Allah.
Oleh karena cara memandang yang demikian, maka AKU akan berkata,

” Tiada maujud melainkan Allah”.

Ini adalah kata-kata dari orang yang sudah “tenggelam” dalam lautan Ketuhanan yang berada dalam pandangan keruhanian semata-mata.

Inilah orang-orang sufi yang telah mencapai maqam Fana Fillah (lenyap dalam Allah) dan seterusnya Baqa Billah (kekal dengan Allah).

7. HUBUNGAN AKU DENGAN ALLAH

Hubungan AKU dengan Allah ibarat hubungan matahari dengan cahayanya, ibarat ombak dengan laut, ibarat gula dengan manisnya.

Semua ini menunjukkan betapa rapat perasaan AKU itu dengan Khaliknya.

Kalau mau di ibaratkan lagi ialah seperti pelukis dengan lukisan, pengukir dengan ukiran, pengarang dengan karangan, pencipta dengan ciptaannya.

Ini adalah ibarat untuk menunjukkan bahwa AKU dengan alam semesta raya ini adalah tanda-tanda atau manifestasi Wujud Yang Maha Esa itu.

8. AKU SUCI HAKEKATNYA

AKU ini memang suci hakekatnya, karena AKU limpahan Nur Allah Yang Maha Suci.

Yang mengotori AKU ini ialah syirik yaitu menyekutukan dengan apa dan siapa jua

Untuk membersihkan kotoran ‘syirik’ itu dari hati ialah dengan Tauhid.

Tauhid ibarat air yang menyucikan najis syirik dari hati.

Jiwa yang bersih ialah jiwa yang tauhid.

Dengan Tauhid ini menjadikan jiwa seseorang itu berani, tawadhu’, sabar, kuat dan gagah karena jiwa Tauhid ini betul-betul mengesakan Allah dan menyerah bulat-bulat kepada Allah Yang Maha Agung.
Dengan berzikir hati akan jadi tenang dan damai, dan akan menimbulkan semangat tauhid dalam diri penzikir itu.

9. AKU TUNDUK KEPADA ALLAH

AKU yang sebenarnya hanya tunduk kepada Allah saja.

AKU tidak dikuasai oleh siapapun jua.

Alam ini tunduk kepada AKU.

Semua makhluk tunduk kepada AKU dengan perintah Allah Yang Maha Perintah.

AKU adalah Khalifah Allah atau wakil Allah yang mengurus makhluk dengan isinya.

Segala yang ada di langit dan di bumi semua untuk AKU.

Kalau dunia ini ladang, AKU pengurusnya dan Allah yang empunya ladang itu.

Namun Allah tidak perlu apa-apa.

Hanya AKU yang memerlukan Dia.

Hanya AKU yang memerlukan dunia.

Makhluk yang ada di dunia adalah untuk AKU .

Semuanya adalah karunia dari Tuhan AKU

Allah jadikan semua makhluk untuk AKU.

Demikian mulianya AKU.

 

Siri Aku 10 sampai 20

10. AKU BERILMU

 

AKU itu berilmu.

Ilmunya adalah limpahan ilmu Allah.

Ilmu itu meliputi yang diketahui.

Apa yang diketahui itu adalah kandungan ilmu.

Oleh karena AKU adalah ilmunya, dan yang diketahuinya adalah sebenarnya ‘bersatu’, ‘bersama’, dan tiada bercerai.
AKU itu tahu. Apa yang AKU tahu itulah kandungan ilmu AKU.

Bermacam-macam yang diketahui oleh AKU.

Semua itu kandungan ilmu AKU.

Semua itu tiada terpisahkan dari AKU.

11. AKU TIDAK MEMILIK SIFAT TERCELA

 

AKU tidak megah dan tidak bangga.

Orang yang telah kenal AKUnya tidak memiliki sifat-sifat yang tercela seperti takabbur, congkak, sombong, kikir, dengki, khianat, mengumpat, takut kepada ghairullah dan sebagainya.
Sifat-sifat tercela itu tidak perlu baginya.

Segala sifat tercela itu dengan sendirinya hilang dan diganti dengan sifat-sifat terpuji.

Apa yang hendak dimegah-megahkan, dikhawatirkan, ditakutkan?, karena AKU ini sebenarnya tiada apa-apa.

AKU itu kosong belaka.

Yang ada hanya Allah pada hakekatnya.

Allah memiliki segala-galanya.

Dia yang patut dipuji dan dipuja.

12. AKU TETAP KAYA JIWA

 

Walaupun dari segi kehidupan dunia ini seseorang itu miskin harta, tetapi kalau jiwanya kenal diri dengan Tuhannya, ia tetap kaya.

Kaya pada perasaannya.

Walaupun susah kehidupan dunianya,

AKUnya tetap merasa senang.

Walaupun badannya lemah,

AKUnya tetap merasa kuat.

Walaupun kesunyian tanpa rekan, namun tetap merasa ramai.

AKU yang telah ‘menyerap’ dalam Yang Maha AKU,

atau jiwa yang ‘menyerap’ dalam Jiwa Semesta

atau perasaan yang ‘menyerap’ dalam Perasaan Sejagat Raya,

atau diri yang ‘menyerap’ dalam Diri Semesta Raya,

Maka tidak akan merasa lemah, tidak akan merasa susah, tidak akan merasa jatuh, tidak akan merasa duka, dan tidak akan merasa sunyi.

13. TUJUAN AKU

 

Tujuan AKU ialah ALLAH.

Yang diharapnya ialah keredhaan Allah.

Yang diminta ialah keampunan Allah.

Pada pandangan AKU kehidupan akhirat itulah yang utama.

Kembali ke hadirat Allah itulah yang diidamkannya.

AKU tidak takut berpisah nyawa dari badan karena ‘mati’ sebenarnya berpindah alam, dari alam dunia ke alam barzakh.

AKU tetap AKU juga.

Walaupun badan hancur tetapi AKU tidak hancur.

AKU akan kembali sadar ketika hijab-hijab pada jasad telah hilang.

14. AKU TIDAK MERASA HINA

 

AKU tidak merasa hina karena miskin papa atau buruk rupa atau cacat tubuh atau tidak berpangkat atau tidak banyak kawan atau tiada harta benda sedikitpun jua

Semua itu berkaitan dengan keduniaan dan kebendaan, tidak ada sangkut paut dengan AKU yang bersifat kerohanian.
AKU hina jika kufur dengan Allah.

AKU hina jika jauh dengan Allah,

AKU hina jika tidak beriman dan tidak bertakwa,

itulah kehinaan pada AKU yang sebenar-benarnya.

15. AKU APA ADANYA

 

AKU tidak megah dengan harta benda, uang, pangkat jabatan, kekuasaan, sanak saudara yang banyak dan segala ghairullah (selain Allah).

AKU tidak iri hati dengan orang kaya. tidak dengki dengan orang-orang berpangkat tinggi.

Pada pandangan AKU segala harta benda, uang, pangkat jabatan, istri, anak pinak, saudara dan sebagainya itu adalah milik Allah yang dianugerahkanNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

Dia yang menentukan siapa yang patut diberi harta banyak dan siapa yang patut diberiNya harta yang sedikit.

Semua itu Allah yang menentukan.

KetentuanNya tidak dapat disanggah dan dipermasaalahkan.

Kenapa AKU mesti gusar dan iri hati dengan ketentuanNya.

Dia yang AKU puji dan puja tentulah AKU redha dengan ketentuanNya.

16. ASAL AKU

 

AKU itu diri.

Diri manusia itu banyak tetapi berasal dari Diri Yang Satu.

Diri itu ROH.

ROH itu banyak tetapi berasal dari Satu ROH yaitu AL ROH.

Al Roh itu diberi gelar oleh orang-orang Sufi sebagai Hakekatul Muhammadiyah atau juga digelar Insan Kamil atau Insan Kabir.

AL ROH itu juga digelar Al Roh Ul Kulliyah (Roh semesta).

Dari ROH Semesta inilah didzahirkan ROH-ROH yang banyak itu.

Allah dzahirkan Al Roh dan dari Al Roh didzahirkan sekalian ROH.

ROH seseorang itu pancaran dari Al Roh dan Al Roh berasal dari Allah jua

17. AKU TIDAK HERAN

 

AKU tidak kagum dengan kemajuan manusia.

Tidak kagum dengan kemajuan sains dan teknologi, kemajuan perniagaan dan perindustrian.

Bahkan AKU tidak heran dengan segala urusan keduniaan.

Yang diherankan oleh AKU ialah Allah Yang Maha Bijaksana yang melimpahkan segala ilham kemajuan itu.

Sebenarnya Dialah yang maju dan Dialah yang bijaksana.

Dia yang memiliki segala ilham.

Sumber ilham kemajuan itu dari Yang Memiliki Ilham itu sendiri yaitu Allah jua.

18. TEMPAT ASAL AKU

 

AKU sebenarnya berasal dari tempat yang tinggi dan mulia yaitu di hadirat Allah Ta’ala

Kemudian datang sebentar ke alam bumi dan di-jasad-kan dengan badan jasmani untuk waktu yang ditentukan seperti merantau sebentar di alam bumi ini.
Apabila sudah cukup waktunya berada di perantauan,

AKU pun kembali pulang menuju ke tempat asal.

Ibarat perantau kembali ke kampung halaman. Tidaklah terkira hati berasa nyaman.

Tetapi jika diperdalam, direnung dan dikaji,

AKU tetap berada di tempat sendiri.

Bukan dari mana dan ke mana pergi.

Kapan dan di manapun juga AKU tetap di tempat sendiri jua.

AKU datang dari Ilahi, tidak bercerai walaupun seinci dan sesaat.

AKU tetap bersama setiap masa dengan Allah swt.

Dulu AKU bersama denganNya, sekarang pun bersama denganNya, akan datang pun bersama denganNya. Senantiasa AKU terus bersama-sama denganNya.

AKU ini tetap AKU jua, bersama Allah senantiasa.

Hanya alam-alam yang ditempuh saja berbeda , dari satu alam ke satu alam yang lain..

AKU senantiasa kekal dengan Allah, walaupun di alam mana pun AKU berada.

19. PENYERAHAN BULAT AKU PADA ALLAH

AKU senantiasa menyerahkan diri kepada Allah swt.

Penyerahan total, bulat sepenuhnya.

AKU menyerahkan diri kepada Allah ibarat bayi menyerahkan dirinya kepada ibunya, ibarat mayat menyerahkan dirinya kepada pemandi mayat, ibarat ombak mem-fana-kan atau melenyapkan dirinya kedalam lautan.

Bahkan lebih dari itu lagi. Tidak dapat digambarkan lagi.

20. AKU JUGA ADA KALA SANGSI

 

Adakalanya AKU itu sangsi dan ragu atau perasaan tidak menentu terhadap kasih sayang Yang Maha Penyayang.

Mungkin setan berbisik kedalam kalbu supaya ragu-ragu dan tidak percaya dengan kasih sayang Yang Maha Pengasih.
Oleh karena itu, AKU senantiasa memohon perlindungan Allah dari bisikan setan.

Setiap saat AKU berjuang melawan bisikan setan itu dan mengharapkan bantuan dari Yang Maha Gagah Allah swt.

 

Siri Aku 21 sampai 30

21. KESADARAN AKU

 

Dalam kesadaran AKU, semua makhluk ini dan diri AKU juga adalah semata-mata ayatollah (tanda-tanda Allah).

Tanda-tanda adanya Allah, tanda-tanda kesempurnaanNya, keagunganNya dan keindahanNya.
Apabila dilihat tanda, tergambarlah yang ditanda.

Apabila dilihat gambar, terbayanglah yang digambar.

Apabila dilihat daun yang bergoyang, nampaklah angin yang bertiup.

Apabila nampak bayang, nampaklah yang empunya bayang.

AKU dan alam semesta raya ini adalah ayat-ayat Allah belaka.

22. PENGEMBARAAN AKU

 

Orang yang memasuki jalan kesufian adalah sebenarnya memasuki pengembaraan yaitu pengembaraan AKUnya menuju Allah swt.

Pengembaraan ini bukan dari tempat ke tempat atau dari masa ke masa, tetapi pengembaraan ini adalah pengembaraan dalam kesadaran AKU, beredar dalam pengalaman kerohanian atau kejiwaan.

Hanya jiwa yang merasainya, tidak kelihatan oleh mata kasar.
Tetapi setelah sampai ke tempat dituju yaitu kesadaran bahwa AKU ini fana dalam Allah dan Baqa (kekal) denganNya, barulah AKU itu sadar bahwa pengembaraan itu hanya dari tidak sadar kepada sadar.

Sadar betapa AKU memang berada di destinasi sejak awal hingga akhir.

Apakah destinasi itu?

Itulah kesadaran dan pengenalan tentang Allah atau dalam istilah kesufian disebut MAKRIFAT.
Pada hakekatnya AKU itu memang berada ‘dalam’ Allah dan ‘kekal’ dengan Allah sejak awal dari dulu, sekarang, dan akan datang.

AKU memang bersama dan ‘menyatu’ dengan Tuhanku.

AKU itu memang diliputi oleh lautan Wujud Ketuhanan.

23. AKU PALING MULIA PADA KENYATAANNYA

Badan kita ini amat kerdil, ibarat sebutir pasir di padang gurun, setitik air di lautan luas, sebiji bintang di cakrawala, ibarat “melukut di tepi gantang, masuk tidak bertambah dan keluar tidak mengurang”

Betapa kecil dan kerdilnya badan kita. Itulah wajah dzahir AKU.
Tetapi kalau kita merenung ke wajah batin kita, Dia paling Mulia, paling Agung martabatnya, mengatasi segala makhluk dan malaikat.

AKU itu suci dan bersih, sangat dekat dengan Illahi.

Dialah cahaya Allah, Dialah ayat-ayat Allah, Dialah ROH Allah, Dialah bayangan dan pendzahiran Allah.
AKU yang hakiki itu sangat Mulia, tiada tertandingi oleh sekalian makhluk.

Dia bertasbih setiap saat, memandang Allah dengan kasihnya, rindu dendam tiada terkira. Itulah AKU yang sebenarnya.

24. AKU TIDAK MEMILIKI APA-APA

 

Dari pandangan ROH atau AKU yang hakiki, AKU tidak memiliki apa-apa tetapi AKU dimiliki oleh Yang Maha Kaya yaitu Allah swt.

AKU dijasadkan untuk menjalani hidup di dunia fana ini.

AKU juga diberi nafsu.

Kalau AKU tunduk kepada jasad dan nafsu, maka binasalah AKU ini, tetapi jika AKU yang menakluki jasad dan nafsu, maka selamatlah AKU ini.
AKU membawa kita menuju Allah dan menyadari hakekat dirinya dan Tuhannya.

Nafsu serakah membawa kita jauh dari Allah dan lupa akan hakekat diri kita.

Lantaran itu hanyutlah ia dalam lautan kelupaan dan kesesatan dan akhirnya ia akan menyesal setelah ia meninggalkan badannya.

Setelah ROH berpisah dari badan, maka sadarlah AKU itu kembali akan keadaan diri yang sebenarnya.

25. AKU SENANTIASA CINTA DIA

 

AKU senantiasa cinta kepada DIA (Allah).

Tidak mau berpisah dan berjauhan dengan DIA.

AKU senantiasa ingat akan DIA.

Terasa azab jika tidak mengingatiNya. Puja dan puji hanya untuk DIA semata. Perasaan cinta ini tidak akan ada pada AKU jika tidak dengan anugerahNya juga.

Alangkah kerdilnya AKU berada dalam majlis DIA.

26. AKU MEMANG ADA KESADARAN

 

AKU memang ada kesadaran, limpahan Yang Maha Sadar Allah swt.

Kesadaran AKU meliputi alam nyata dan alam gaib, alam dunia dan alam akhirat.

AKU sadar semua itu.

Semua perkara itu adalah ilmuku.

Allah ada dalam kesadaran AKU.

Begitu juga makhluk ada dalam kesadaran AKU.

Segala yang ada dalam kesadaran AKU itulah ilmu AKU.

Surga, neraka, malaikat dan iblis ada dalam kesadaran AKU.

Semua yang ada dalam ilmu atau kesadaran AKU itu adalah pen-dzahiran Allah dalam kesadaran dan ilmu AKU.

27. WUJUD AKU

 

AKU wujud dalam lautan Yang Maha Wujud. AKU senantiasa berada dalam lautan itu. Dalam lautan itulah AKU bermastautin. Itulah lautan wujud.

28 AKU SEBENARNYA DHAIF

 

AKU bodoh.

Dialah yang membuat AKU pandai.

AKU lemah Dialah yang menguatkan AKU.

AKU tidak tahu, Dialah yang memberiku tahu.

AKU papa kelana, Dialah yang memperkayakan AKU.

AKU bertanya, memohon, berharap kepadaNya saja. Seolah-olah AKU dan DIA berpadu dan bersatu di mana dan kapan saja.

Dan DIA ada dalam kesadaran AKU.

Renunglah ke dalam AKU.

Dia berada dalam kesadaran AKU.

Maha Halus dan Maha lembut.

AKU mendengar bisikanNya.

Dalam waktu sunyi sepi, paling baik mendengar bisikan hati nurani.

Tanpa huruf, tanpa suara, tetapi AKU faham segala-galanya.

AKU kenal Dia dalam kesadaran batinku karena AKU berhubungan dengan Dia tanpa menyekutukanNya. Inilah satu hasil Zikrullah.

29. AKU BESERTA ALLAH

 

AKU memang berserta dengan Allah, sejak dari dahulu hingga akan datang atau sejak awal hingga akhir.

Tidak pernah bercerai dan berpisah dengan Yang Maha Aku yaitu Allah.

Sejak dari dalam ilmu Allah hingga sampai ke alam akhirat yang tidak ada ujungnya, AKU tetap bersama Allah.
AKU tidak keluar dan tidak masuk dalam lengkungan Allah. AKU itu memang berada dalam lengkungan Allah saja.

Kalau Allah itu diibaratkan sebagai lautan, maka AKU itu ikannya. Ikan itu senantiasa dalam lautan dan tidak akan hidup tanpa air lautan itu.

‘Masuk’ dan ‘Keluar’, ‘berpisah’ dan ‘bersatu’, tidak termasuk dalam kamus AKU.

AKU bukan seperti badan kasar yang takluk kepada ruang dan waktu.

AKU menyerahkan diri dan nasib kepada Yang Maha AKU.

Cukuplah Dia mengawal dan memelihara AKU.

AKU tidak perlu pada yang lain lagi.

Tidak perlu pertolongan dari ghairullah (selain Allah), bahkan tidak ada ghairullah pada pandangan AKU

Cukup Allah saja bagi AKU.

30. AKU ITU HIDUP

 

Dalam alam dunia ini kita katakan si anu itu orang kota dan si anu itu orang desa, ataupun si anu itu pejabat atau si anu itu berada di rumah mewah.

Semua itu menunjukkan tempat dalam alam nyata ini.

Tetapi bagi ROH itu semua tidak ada.

Ia bebas dari tempat atau arah atau masa atau waktu.

ROH itu hidup. Ia tidak takluk kepada alam nyata atau alam kebendaan.

ROH itu hidup dengan limpahan Yang Maha Hidup.

Demikianlah AKU.

Siri Aku 31 sampai 40

31. AKU TAJALLI ALLAH

AKU yang hakiki itu adalah Nurullah.

Sesuatu yang menampakkan sesuatu yang lain adalah cahaya.

Tanpa cahaya gelap gulita segala-galanya

.
AKU juga ayatollah (tanda-tanda Allah) karena ROH itu tanda daripada adanya Allah.

AKU juga digelar Rohullah karena ROH itu adalah hembusan dari Roh Allah.

Itulah AKU yang hakiki.

AKU dan alam semesta adalah pendzahiran atau Tajalli Allah.

AKU ini adalah alam kecil karena semua perkara yang ada dalam alam besar ini ada gambarannya atau pendzahirannya dalam alam kecil.

Alam semesta ini juga digelar Insan Kabir (manusia besar) karena semua yang ada dalam alam kecil ini pada kenyataannya ada dalam alam besar.

Insan Saghir (manusia kecil) ini adalah diri (ROH) manusia itu dan Insan Kabir itu adalah alam semesta raya yang gaib dan yang nyata.

Alam kecil adalah Insan Saghir yaitu Manusia dan Alam Besar adalah Insan Kabir yaitu Alam Semesta Raya.

32. AKU HANYA WAYANG

AKU ini pada hakekatnya adalah wayang yang dimainkan oleh dalang yaitu Allah.

AKU ini ibarat keris yang dihunus oleh pendekar.

AKU tidak berdaya upaya, gerak dan diam AKU adalah digerakkan dan didiamkan oleh Allah.

Adanya AKU adalah limpahan dari adanya Allah.

Allah itu hakiki. AKU ini majazi atau relatif saja. Kalau dipahami dan diselidiki secara mendalam, akan terasa bahwa yang gaib dan yang dzahir dan yang awal dan yang akhir adalah Allah jua

Singkatnya pada pandangan orang yang sangat dekat dengan Allah, alam dan dirinya lenyap sama sekali dan tinggallah Allah semata-mata. Ini dipandang oleh ROH yang bersih dan suci dan mentauhidkan diri kepada Allah semata-mata.

33. AKU BERASAL DARI TEMPAT MULIA

AKU yang hakiki itu tidak tertakluk kepada warna kulit dan bangsa.

AKU itu bukan putih, hitam manis, kuning langsat dan sebagainya. Sebagaimana adanya warna kulit pada badan. AKU tidak ada warna dan tidak berbangsa-bangsa seperti bangsa Cina, India, Indonesia, Arab dan sebagainya.
Badan kita berasal dari unsur-unsur tanah, air, api, dan udara tetapi ROH kita bukan dari unsur-unsur dunia nyata ini.

AKU gaib dari pandangan mata kasar namun AKU tetap wujud.
AKU berasal dari tempat yang paling mulia. AKU berasal dari Yang Maha AKU

AKU berasal dari ilmu Allah masuk ke alam jasad ini dan kemudian kembali kepadaNya. Jadilah ROH itu sebagai Nur Allah saja. Ia pun kembali ke tempat asalnya yaitu ke hadirat Allah swt.

34. AKU PERLU DIBERSIHKAN

AKU tidak terkotorkan oleh kencing dan tahi.

Tidak ada najis secara fisik yang dapat mengotori-ku

Ibarat cahaya matahari, cahaya itu menyinari najis dan benda-benda kotor, namun cahaya itu tidak akan kotor. Ia menyinari tempat bersih dan tempat busuk, tetapi cahaya tidak akan wangi dan busuk, kotor atau bersih.
Najis pada AKU itu ialah Syirik, menyekutukan Allah, menduakan Allah dengan yang lain. Itulah najis bagi AKU.

AKU yang bertauhid adalah ROH yang suci. ROH itu pada hakekatnya senantiasa percaya dengan adanya Allah dan mengesakanNya.

Hanya setelah sampai ke alam dunia barulah ROH itu tercemar oleh pengaruh keduniaan, pengaruh iblis dan setan, pengaruh kebendaan, pengaruh nafsu serakah, syahwat dan sebagainya.

Kita perlu membersihkan jiwa atau AKU kita kembali sebagaimana aslinya dengan zikrullah (mengingat Allah) dengan lisan, hati dan perbuatan.

Zikrullah itu ibarat air mutlak yang membasuh dan menyucikan najis syirik dari AKU itu. Bersihkanlah AKU itu hingga ‘fana’ (terasa diri kosong, tiada apa-apa) dan kemudian naik mencapai setingkat lagi ke peringkat ‘baqa’ (terasa diri sentiasa bersama Allah). Terasa Allah ada dimana saja kita berada.

AKU yang bersih atau diri yang suci adalah diri yang meng-Esa-kan Allah hingga tidak terasa adanya diri. Yang ada hanya DIRI YANG BERDIRI SENDIRINYA yaitu ALLAH SWT.

35. AKU TIDAK TERTAKLUKAN

AKU ini adalah ROH. Itulah yang dinamakan diri.

ROH ini tidak tertaklukan oleh ruang dan waktu. ROH tidak tua dan tidak  muda. Tua dan muda itu hanya bagi jasmani dan keadaan dunia ini saja. Semua ROH adalah sebaya saja. Nabi Adam as sebaya dengan Nabi Muhammad saw. Kita sebaya dengan moyang kita. Anak kita sebaya dengan kita, Begitulah seterusnyanya. Tiada tua dan muda bagi ROH. ROH tercipta serentak dan sekaligus saja.

Kemudian ROH itu dilahirkan ke dunia melalui rahim ibu dengan badan kita sebagai sangkar atau sarungnya. ROH dilahirkan ke dunia menurut masa yang telah ditentukan. Siapa yang ditakdirkan lahir dahulu dialah yang tua dan siapa yang lahir kemudian dialah yang muda.

Dari segi Jasmaniah atau kebadanan ada tua dan ada yang muda, tetapi dari segi ROH sebaya saja.

AKU juga tidak takluk kepada tempat. AKU bukan Barat dan bukan juga Timur. Bukan juga dari Utara dan bukan juga dari Selatan. AKU tidak tertakluk kepada arah dan tempat.

AKU juga bukan takluk kepada bangsa. AKU atau ROH bukan berbangsa itu dan bukan berbangsa ini. Bangsa-bangsa itu hanya wujud dalam dunia nyata ini. Di alam AKU tidak ada bangsa-bangsa.

AKU adalah ma’lum dalam ilmu Allah, wujud dalam wujud-NYA. AKU adalah pendzahiran sifatNya. Demikian AKU tenggelam dalam Yang Maha Aku.

36. AKU TETAP KEMBALI

AKU miskin papa, lemah, tidak berdaya dan tidak punya apa-apa. Yang Kaya Raya, Yang Gagah Perkasa, Yang Kuat dan Berdaya dan memiliki segala-galanya adalah Yang Maha Kaya dan Maha Kuat itu juga. yaitu Allah swt.

Hidup AKU kembali ke hidupNya. Gerak AKU kembali kepada gerakNya. Diam AKU kembali kepada diamNya. Sifat AKU kembali ke sifatNya. Nama AKU kembali ke namaNya. Amalan AKU kembali ke amalanNya. Wujud AKU kembali ke wujudNya.
Memang benar, AKU itu akan kembali kepadaNya, laksana cahaya kembali ke matahari, seperti ombak kembali ke laut. Tempat kembali itulah tempat AKU sebenarnya.

37. AKU HANYA

AKU itu sebenarnya bebas merdeka. AKU hanya bergantung kepada Yang Maha AKU.

AKU tidak memiliki apa-apa. AKU hanya menerima limpahan wujud dari Yang Maha Wujud.

AKU tidak patut dipuji kerana AKU “kosong”.

Yang Maha Wujud Hakiki hanya Allah.

AKU tidak memuji Ghairullah (selain Allah) karena Ghairullah itu pun kosong juga. Yang patut dipuja dan dipuji hanya yang Wujud Hakiki itu saja.

AKU hanya ‘satu pancaran’ dari sinar Matahari Ketuhanan. AKU hanya ‘satu ombak’ dari lautan Ar-Rahman. AKU hanya ‘satu ayat’ dalam karangan Al-Haq (yang benar) yaitu Allah. AKU hanya ‘satu butir’ pasir dalam padang pasir Wujud Yang Maha Meliputi dan Maha Luas. AKU hanya ‘satu bayangan’ dari bayangan Dia Yang Maha Ada. Itulah AKU yang tidak terpisah dengan Tuhanku.

 38. PERJALANAN AKU

AKU datang dari Allah. AKU adalah ma’lum (yang diketahui) dalam ilmu (pengetahuan) Allah.

Kemudian AKU berada di alam ROH.

Bila sampai masanya hendak lahir ke dunia AKU dihembuskan ke bakal bayi dalam rahim ibu. Cukup masanya dalam rahim ibu itu, AKU pun lahir ke dunia bersama badan fisikal yang berbentuk bayi.
AKU akan berada di dalam alam dunia sampai ajal datang menjemput. Kemudian AKU masuk ke alam Barzakh. Setelah berada sekian lama, maka akan dipertimbangkan di Hari Pengadilan. AKU akan masuk surga atau neraka ?

Kemanapun AKU masuk, hendaknya AKU kembalilah ke hadirat Allah swt.

Dari Allah AKU datang kepada Allah AKU kembali. Di sana kekallah hidup bersama dengan Yang Maha Hidup selama-lamanya. Itulah perjalanan AKU. Mengembara dari satu alam ke satu alam.yang lain.

39. PENCAPAIAN AKU

Setelah mencapai tahap pandangan ROH yang tinggi, maka kemana saja ROH itu menghadap di sana terdzahir wajah Allah seolah-olah Ia berada dimana-mana jua.

.

Maha dekat Allah tidak terkira

Bersatu bersama sehati sejiwa

Maha jauh namun dekat jua

Gerakku gerak Dia

Diamku diam Dia

Tindak-tandukku tindak-tanduk Dia

.

Hidupku pancaran hidupNya

Diriku bayangan diriNya

Sifatku gambaran sifatNya

.

Kalau Dia matahari akulah cahayaNya

Kalau Dia lautan akulah ombakNya

Kalau Dia asin akulah garamNya

Kalau dia manis akulah gulaNya

Aku seorang berdua denganNya

Tapi aku berpadu denganNya

Maha dekat disamping maha jauhNya

Oh! Alangkah hebat wujudNya

Wujudku tenggelam dalam wujudNya

Fana dan Baqa dalam adaNya.

Demikian pandangan orang-orang Kesufian yang telah mencapai peringkat serasa seolah-olah berserta dengan Wujud Yang Maha Esa itu. Mereka mencapai tahap demikian karena mereka menumpukan seluruh pandangannya terhadap Yang Maha Wujud itu dan penuh cinta denganNya.

Orang yang tidak pernah menjalani latihan rohaniah dan tidak tahu hal-hal kerohanian yang mendalam dan tidak pernah menempuh jalan kerohanian, mereka jangan coba-coba mentafsirkan sendiri pendapat mereka itu takut nanti tersesat pula.

40. AKU BUKAN ALLAH

Sungguhpun AKU itu berpandangan seperti yang tersebut dalam Penjelasan-penjelasan ‘Siri Aku sebelumnya’, namun AKU tidak akan menjadi DIA.

AKU tetap AKU, DIA tetap DIA.

AKU dan DIA “bersatu” dan “berpadu”  menjadi SATU tidak terpisahkan.

Ibarat bersatunya ombak dengan lautan, bersaatunya gula dengan manisnya.

Perdalam pandangan ini dengan Zikrullah dan bimbingan guru Mursyid yang berpengalaman dalam bidang Kerohanian dan Ketuhanan.

Siri Aku 41 sampai 48

AKU BERSIFAT ROHANIAH

AKU yang bersifat rohaniah semata-mata itu terasa cukup bagi-ku Allah saja. Allah itulah segala-galanya bagi AKU. Kepada Allah itulah AKU mengadu dan berharap.

Pandangannya tertumpu pada Allah. Tenggelamlah AKU itu dalam lautan Ketuhanan Allah Yang Maha Luas dan Dalam.
Dalam keadaan perasaan menyerap dalam Lautan Ketuhanan Yang Maha Luas dan Dalam itu, AKU tidak merasa takut, tidak merasa dengki, tidak merasa kecil hati sesama makhluk.
Pada pandangan AKU itu, makhluk itu hakekatnya tiada apa-apa. Wujud makhluk bukan hakiki, hanya bayangan saja yaitu bayangan wujudnya Allah. Hanya Allah jua yang wujud. Demikian pandangan AKU.

 

42. SIFAT-SIFAT AKU

 

AKU ini ada sifatnya yaitu hayat atau hidup, ilmu atau pengetahuan, pendengaran, penglihatan, kudrat atau kuasa, iradat atau berkehendak, dan berkata-kata. Semua sifat-sifat ini adalah limpahan dari sifat-sifat Allah semata.
AKU yang hakiki itu tiada bercerai dan tiada terpisah dengan sifat-sifat Allah dan Allah itu sendiri. Wujud AKU itu sebenarnya diserapi oleh Wujud Semesta Raya itu. Inilah pandangan AKU yang bersifat rohaniah.

 

43. WUJUD AKU

Memang AKU itu ada (wujud). Wujudnya dengan limpahan Wujud Yang Maha Agung.  Hidup AKU limpahan hidupNya. AKU berdaya limpahan dayaNya. Berkuasanya dan berupayanya AKU adalah limpahan kuasa dan upayaNya. Aku berkehendak dan Diapun berkehendak. Kehendak AKU tertakluk kepada kehendakNya.
“Limpahan” disini berarti karuniah atau anugrah atau pendzahiran atau keluaran ataupun kesan.
Yang Maha Wujud itu Allah. AKU dan alam semesta raya adalah limpahan nama-nama dan sifat-sifat Yang Maha Wujud itu. Setiap nama dan sifat Allah terdzahir pada AKU dan alam semesta raya ini.

Itulah pandangan AKU yang bersifat kerohanian.

 

44. AKU DZAHIR AKU BATIN

AKU atau ROH atau DIRI, wujud AKU “bersatu” dan “berpadu” dengan Wujud Yang Esa dan Semesta itu. Kelihatan pada AKU bahwa Allah itu batin dan AKU itu Dzahirnya. Allah itu hakekat dan AKU itu bayanganNya. Dia Matahari dan AKU cahayaNya. Dia elektrik dan AKU lampu. Dia dalang dan AKU wayang. Gerak AKU digerakkan olehNya.Ini adalah pandangan kerohanian yang paling dalam.

 

45. AKU AMAT DEKAT DENGAN ALLAH

AKU ini memang dekat dengan Allah. AKU dan Allah tidak bercerai-berai dari dulu, sekarang dan selamanya. Ibarat ombak tidak bercerai dengan laut. Dari sudut manapun Wujud Semesta Raya itu tetap mengelilingi AKU. Ia meliputi AKU dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang, luar, dalam bahkan dari mana saja. ” dekat”, “rapat” dan “Mengelilingi” itu bukanlah dari segi ruang dan waktu yang boleh diukur dengan panjang, lebar, dalam, atau dari segi masa dan waktu. Dekat, Rapat dan Mengelilingi itu adalah dari segi pandangan rohaniah atau kerohanian. Hanya orang yang berada dalam pengalaman rohaniah saja yang faham akan maksudnya.
Wujud semesta itu “meliputi”, “merangkumi”, “berpadu”, dan “bersatu” dengan AKU.

AKU terserap dalam Wujud Semesta ini.

 

46. MENGENAL ALLAH

AKU atau ROH itulah yang dapat mengenal Allah swt, bukan badan kasar ini yang mengenalNya. Melalui ROH itu kita mengenal Allah. Wadah atau bekas tempat Allah mentajallikan (mendzahirkan) dirinya kepada kita ialah ROH kita

ROH itu digelar juga Hati. Bukan hati secara fisikal tetapi hati yang bersifat kerohanian. ROH itu memiliki kesadaran. Kesadaran tentang wujudnya Allah dan sifat-sifatNya yang terdzahir dalam alam semesta raya ini. Yang melihat pendzahiran atau tajalli itu ialah ROH kita.

 

47. AKU ADALAH AYATOLLAH

 

Sekali lagi diulangi bahwa AKU anda itu adalah ROH anda dan itulah juga diri anda sebenarnya.
AKU itu juga adalah ayatollah (tanda-tanda Allah)  karena seluruh alam raya, yang ghaib dan yang nyata, adalah tanda-tanda wujudnya Allah swt

AKU itu juga digelar ROHULLAH (ROH ALLAH) karena ROH itu adalah hembusan dari ROH ALLAH atau limpahan dari ROH ALLAH.
AKU itu juga digelar Nurullah ( cahaya ALLAH) karena setiap roh itu adalah cahaya. Digelar cahaya karena setiap yang menampakkan sesuatu digelar cahaya . Nabi-Nabi itu cahaya Allah karena melalui Nabi-nabi itu kita dapat mengenal Allah melalui ajaran dan didikan mereka. ROH itu cahaya karena melalui ROH itu kita kenal dan ‘nampak’ Allah.
AKU itu juga digelar Ma’lum dalam ilmuNya. Ma’lum artinya ‘yang diketahui’. Allah itu ‘Alim ( yang mengetahui). Setiap yang mengetahui tentu berpengetahuan (berilmu). Allah itu berilmu, sebab itulah Ia ‘Alim. Setiap yang ‘Alim tentu ada ilmu dan ada perkara yang diketahuinya. Perkara yang diketahui itu digelar Ma’lum (yang diketahui). Allah itu ada ilmu dan dalam ilmuNya ada Ma’lum. ROH kita ini termasuk dalam ilmu Allah. Maka ROH kita itu Ma’lum Allah. Maka itulah dikatakan ROH itu Ma’lum dalam ilmu Allah.

 

48. PANDANGAN AKU

AKU yang paling dalam itu bersifat kerohanian. Jika AKU itu dibersihkan pandangannya melalui zikrullah dan latihan kerohanian maka AKU itu akan mencapai satu tahap pandangan dimana rasa wujud ini adalah Esa juga.

Menurut pandangan ini, wujud itu ada bertingkat-tingkat, bertahap-tahap, dan berbagai macam aspek, namun ia tetap satu, bahwa segala yang ada dan kelihatan, baik yang dzahir mahupun yang batin, semuanya pada hakekatnya satu wujud saja.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *